#7,8 30 Hari Bercerita : Kopi dan Ngopi
Kopi dan Ngopi
Ini cerita rapel untuk menutupi cerita-ceritaku di hari kemarin yang bolong hehe
Dari aku yang mencintaimu...
Hampir semua orang di rumahku meminum kopi. Bapaku, ibuku, kakek dan nenek ku.
Awalnya aku tidak tahu kenapa mereka suka kopi, apakah karena rasanya manis, atau karena hanya tradisi semata karena orang-orang terdahulu meminum kopi juga.
Apa enaknya?
Someday di teras depan rumah, Bapaku menyeduh satu sachet kopi, cuaca cukup terik kala itu mengingat siang bolong. Entah berapa umurku waktu itu, yang jelas aku belum sekolah. Setelah menyeduhnya, bapaku pergi ke dalam rumah mengambil satu dua cemilan untuk dinikmati dengan kopi. Pikirku semua kopi sama, dan rasa ingin tahu ku menuntunku untuk menyicipinya. Tapi, kopi terasa sangat enak, tanpa menghiraukan bapak akan marah aku meminumnya sampai habis. Bapaku bukan seorang pemarah, ia penyayang apalagi pada anak-anak.
Setelah ia datang, dan melihat gelas yang masih terisi hampir penuh itu menjadi kosong bapaku menatap kecewa dan juga heran apakah benar aku meminumnya, aku terlalu kecil dan tidak mudah untuk di salahkan, tetapi tidak ada seorangpun disana kecuali aku. Meskipun tidak bisa marah tapi tampaknya ia menggerutu. Ini bukan kopi biasa yang ia seduh, ini juga bukan kopi warung, dan ini kopi varians terakhir jenis itu yang dimilikinya.
Semenjak itu, setiap kali ada kumpul keluarga, moment ngopi bersama teman-temannya, bapak selalu menceritakan kepolosanku yang meminum kopi ginsengnya yang mahal itu. Aku merasa bersalah dibuatnya, padahal bapak ku tidak pernah marah.
Aku tidak pernah meminum kopi lagi setelah itu seingatku, bahkan aku cenderung tidak menyukai kopi ataupun berbagai bentuk olahannya hingga aku remaja.
Sampai pada akhirnya memasuki dunia kuliah, memulai hidup sendiri, tugas yang menumpuk, dan tuntutan yang cukup banyak, menuntunku pada pola tidur yang larut malam. Apalagi tugas yang terlampau berat dan mepet bisa semalaman ku kerjakan tanpa tidur. Dan...disinilah aku dan kopi dipertemukan kembali.
...
Aku melanjutkan hidupku sebagai manusia cafein. Gabutku, stressku, perjalananku, lelahku dan patah hatiku, teralirkan bersama setiap tegukannya.
Kopi memang pahit, tapi sulit untuk disudahi.
Entah berapa puluh atau ratus gelas yang telah kuminum hari demi harinya. Apalagi menuju akhir semester, kejar-kejaran dengan tugas dan uas bisa setiap hari aku meminumnya. Sebetulnya aku meminum kopi bukan karena menyukainya, tapi kopi membantuku banyak hal. Menemani disaat nugas, menenangkan disaat kacau, dan menjernihkan disaat keruh. Kopi membuatku bisa berpikir bahwa hidup ini tidak hanya sekedar disini. Entah sensasi macam apa, tapi aku terlanjur mencintainya.
Sampai pada suatu hari, aku melupakan satu hal bahwa "segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik". Malam itu aku memesan satu gelas Iced kopi dan cemilan di sebuah coffeeshop. Rencananya akan kutuntaskan tugas akhir ku dengan ngopi. But sometimes.. aku lupa tujuan awal ku, dan hanya fokus meminum kopi sambil menonton siaran langsung pertandingan persib pada layar proyektor di tempat itu. Kopi ku habis dan tugasku tak kunjung selesai.
Aku memesan kembali, tak tanggung ku pesan espresso gula aren terbaik dari tempat ini. Rasa pahit sedikit manis dan masamnya selalu melekat di lidah. Malamku pada waktu itu baik-baik saja, tugas ku berprogress cukup jauh. Aku tak merasa ngantuk sedikitpun setelah ku minum dua gelas kopi itu. Heran, pagi-pagi aku masih merasa segar meskipun semalaman tak tidur. Pergi mandi dan berangkat ke kampus hingga perkuliahan selesai, aku masih segar dan baik-baik saja.
Sore hari badanku mulai lemas, mataku mulai panas dan aku mulai menguap pertanda efek cafein ku mulai habis dan kantuk mulai datang, aku tertidur dengan pulas lalu kemudian terbangun dalam keadaan demam yang menggigil. Perutku kembung dan sakit yang disertai rasa mual dan diare sepanjang malam. Ternyata aku tidak baik-baik saja setelah meminum dua gelas kopi itu. Aku tidak bisa tidur, hanya gusar kesakitan menahan perut yang terasa tak enak semalaman. Bahkan aku bertanya-tanya apakah aku akan mati malam ini? Sepertinya perutku tak kuat lagi meminum kopi.
Dan..kisah kita berhenti disini :')
Ini cerita rapel untuk menutupi cerita-ceritaku di hari kemarin yang bolong hehe
Dari aku yang mencintaimu...
Hampir semua orang di rumahku meminum kopi. Bapaku, ibuku, kakek dan nenek ku.
Awalnya aku tidak tahu kenapa mereka suka kopi, apakah karena rasanya manis, atau karena hanya tradisi semata karena orang-orang terdahulu meminum kopi juga.
Apa enaknya?
Someday di teras depan rumah, Bapaku menyeduh satu sachet kopi, cuaca cukup terik kala itu mengingat siang bolong. Entah berapa umurku waktu itu, yang jelas aku belum sekolah. Setelah menyeduhnya, bapaku pergi ke dalam rumah mengambil satu dua cemilan untuk dinikmati dengan kopi. Pikirku semua kopi sama, dan rasa ingin tahu ku menuntunku untuk menyicipinya. Tapi, kopi terasa sangat enak, tanpa menghiraukan bapak akan marah aku meminumnya sampai habis. Bapaku bukan seorang pemarah, ia penyayang apalagi pada anak-anak.
Setelah ia datang, dan melihat gelas yang masih terisi hampir penuh itu menjadi kosong bapaku menatap kecewa dan juga heran apakah benar aku meminumnya, aku terlalu kecil dan tidak mudah untuk di salahkan, tetapi tidak ada seorangpun disana kecuali aku. Meskipun tidak bisa marah tapi tampaknya ia menggerutu. Ini bukan kopi biasa yang ia seduh, ini juga bukan kopi warung, dan ini kopi varians terakhir jenis itu yang dimilikinya.
Semenjak itu, setiap kali ada kumpul keluarga, moment ngopi bersama teman-temannya, bapak selalu menceritakan kepolosanku yang meminum kopi ginsengnya yang mahal itu. Aku merasa bersalah dibuatnya, padahal bapak ku tidak pernah marah.
Aku tidak pernah meminum kopi lagi setelah itu seingatku, bahkan aku cenderung tidak menyukai kopi ataupun berbagai bentuk olahannya hingga aku remaja.
Sampai pada akhirnya memasuki dunia kuliah, memulai hidup sendiri, tugas yang menumpuk, dan tuntutan yang cukup banyak, menuntunku pada pola tidur yang larut malam. Apalagi tugas yang terlampau berat dan mepet bisa semalaman ku kerjakan tanpa tidur. Dan...disinilah aku dan kopi dipertemukan kembali.
...
Aku melanjutkan hidupku sebagai manusia cafein. Gabutku, stressku, perjalananku, lelahku dan patah hatiku, teralirkan bersama setiap tegukannya.
Kopi memang pahit, tapi sulit untuk disudahi.
Entah berapa puluh atau ratus gelas yang telah kuminum hari demi harinya. Apalagi menuju akhir semester, kejar-kejaran dengan tugas dan uas bisa setiap hari aku meminumnya. Sebetulnya aku meminum kopi bukan karena menyukainya, tapi kopi membantuku banyak hal. Menemani disaat nugas, menenangkan disaat kacau, dan menjernihkan disaat keruh. Kopi membuatku bisa berpikir bahwa hidup ini tidak hanya sekedar disini. Entah sensasi macam apa, tapi aku terlanjur mencintainya.
Sampai pada suatu hari, aku melupakan satu hal bahwa "segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik". Malam itu aku memesan satu gelas Iced kopi dan cemilan di sebuah coffeeshop. Rencananya akan kutuntaskan tugas akhir ku dengan ngopi. But sometimes.. aku lupa tujuan awal ku, dan hanya fokus meminum kopi sambil menonton siaran langsung pertandingan persib pada layar proyektor di tempat itu. Kopi ku habis dan tugasku tak kunjung selesai.
Aku memesan kembali, tak tanggung ku pesan espresso gula aren terbaik dari tempat ini. Rasa pahit sedikit manis dan masamnya selalu melekat di lidah. Malamku pada waktu itu baik-baik saja, tugas ku berprogress cukup jauh. Aku tak merasa ngantuk sedikitpun setelah ku minum dua gelas kopi itu. Heran, pagi-pagi aku masih merasa segar meskipun semalaman tak tidur. Pergi mandi dan berangkat ke kampus hingga perkuliahan selesai, aku masih segar dan baik-baik saja.
Sore hari badanku mulai lemas, mataku mulai panas dan aku mulai menguap pertanda efek cafein ku mulai habis dan kantuk mulai datang, aku tertidur dengan pulas lalu kemudian terbangun dalam keadaan demam yang menggigil. Perutku kembung dan sakit yang disertai rasa mual dan diare sepanjang malam. Ternyata aku tidak baik-baik saja setelah meminum dua gelas kopi itu. Aku tidak bisa tidur, hanya gusar kesakitan menahan perut yang terasa tak enak semalaman. Bahkan aku bertanya-tanya apakah aku akan mati malam ini? Sepertinya perutku tak kuat lagi meminum kopi.
Dan..kisah kita berhenti disini :')
Komentar
Posting Komentar