Emotional Intelligence part 1

Blog ini merupakan tulisan yang dikarang penulis yang terinspirasi dari sebuah buku berjudul "Emotional Intelligence itu Dipraktekkin" karya Tim Wesfix-

Mengenali keceradasan Emosi

Disuatu pagi, ibu nampak cemberut di meja makan, dan ayah justru memarahinya. Mereka bertengkar hebat, sampai memengaruhi pekerjaan masing-masing di kantor. Karena masing-masing sibuk dengan emosi yang naik turun, pekerjaan jadi tidak maksimal dan atasannya menegur dengan keras.

Ani hanya melanjutkan sarapan dan pura-pura tidak mendengar.
Dalam keadaan diam, tiba-tiba mereka membawa nama Ani kedalam pertengkarannya dan Ani kena marah. Seketika makannya terasa tak enak dan paginya kacau. Ani hanya duduk di sekolah dengan suasana hati yang buruk, tak ingin berbicara dengan siapapun. Ia hanya memikirkan emosinya terhadap kedua orang tuanya karena dimarahi tanpa melakukan kesalahan. Hingga pada akhirnya Ani membentak Dila (teman sebangkunya) karena terus-terusan menanyakan rumus Trigonometi. Seketika suasana menjadi dingin, sorot mata teman-teman yang lain menusuk tajam dan Dila terdiam memikirkan apa kesalahannya.

Selama pembelajaran mereka tak saling berbicara. Sayangnya, hari ini adalah ujian Matematika. Ani membutuhkan kalkulator dan lupa membawanya. Ani hanya terdiam menyesali karena ia telah marah, ia berusaha meminjam tetapi rasa malu dan egonya mengurungkan niatnya. Hingga jam ulangan selesai banyak soal yang belum dikerjakan karena sulit untuk mengerjakan soal-soal tersebut tanpa kalkulator.

Kedua peristiwa tersebut hanya di latar belakangi oleh ayah yang lupa menekan tombol flush di toilet.

Sangat disayangkan hal tersebut terjadi hanya karena tidak terampil dalam mengelola emosi.

Pernahkah kalian marah? apakah kemarahanmu membuat keadaan membaik atau justru semakin runyam?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampah